agen poker online domino poker online
Home » Nasional » Belajar dari Kasus Audrey, Ini loh Peran Penting Orang Tua

Belajar dari Kasus Audrey, Ini loh Peran Penting Orang Tua

Beliberita.com – Kasus bully dan kekerasan fisik yang menimpa Audrey sukses menyulut emosi masyarakat baik dari para netizen hingga di kalangan selebritis. Berkaca dari Kasus Audrey ini, mengingatkan kita untuk memahami betapa pentingnya dukungan serta peran orang tua dalam membentuk karakter anaknya.

Peran Orang Tua dalam Memahami Perilaku Bullying Pada Anak

Anak melakukan bullying karena banyak faktor, salah satunya karena anak merasa tidak aman. Mem-bully orang yang terlihat lebih lemah memberi rasa menjadi lebih penting, terkenal, dan berkuasa.

Di sisi lain, anak mem-bully semata karena tidak tahu kalau tidak boleh meledek anak yang berbeda penampilan, ras, atau agama.

Dalam beberapa kasus, bullying menjadi bagian dari perilaku agresif. Kurangnya kontrol diri juga menjadi salah satu faktor pemicu agresi ini.

Anak seperti ini membutuhkan bantuan dalam mengatur rasa marah, frustasi, atau emosi yang kuat lainnya.

Anak yang sering menyaksikan interaksi agresif di keluarga biasanya juga memperlakukan orang lain dengan cara serupa. Konseling bisa membantu dan memperbaiki kemampuan sosial anak.

Peran Orang Tua dalam Membantu Anak untuk Berhenti Mem-bully

Beritahukan anak kalau bullying bukan perilaku yang baik dan ada konsekuensi serius di rumah atau sekolah bila dilanjutkan.

Coba pahami alasan di balik perilaku anak Anda. Pada beberapa kasus, anak mem-bully karena mereka kesulitan mengatur emosi seperti marah, frustrasi, dan rasa tidak aman. Di kasus lain, anak belum mengetahui cara mengatasi konflik dan memahami perbedaan.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan agar anak tidak mem-bully temannya:

1. Pastikan anak memahami kalau Anda tidak mentolerir bullying di rumah atau dimanapun.

Sudah menjadi peran orang tua untuk bertindak tegas dan membuat aturan tentang perilaku agresif anaknya.

Bila Anda menghukum anak dengan mengambil haknya, pastikan ia merasakan efeknya.

Misalnya, apabila anak mem-bully anak lain melalui SMS atau situs internet, jangan bolehkan ia menggunakan komputer untuk sementara waktu.

Bila anak bertingkah agresif di rumah, ajarkan cara bereaksi yang lebih tepat.

2. Pelajari kehidupan Sosial Anak.

Coba cari tahu faktor yang mempengaruhi perilaku anak di lingkungan sekolah atau dimanapun bullying terjadi. Bicaralah pada orangtua dari teman anak Anda dan gurunya. Apakah ini terjadi karena anak lain mem-bully? Bagaimana dengan teman-teman anak Anda? Tekanan seperti apa yang anak hadapi di sekolah? Libatkan anak dalam aktivitas di luar sekolah agar ia bisa menjalin pertemanan dengan anak lain.

3. Ajarkan anak memperlakukan orang lain dengan baik.

Beritahu anak untuk tidak mempermasalahkan perbedaan, misalnya ras, agama, penampilan, gender, atau status ekonomi, dan coba tanamkan empati pada orang yang memiliki perbedaan.

4. Berikan contoh yang baik.

Hati-hati dengan cara Anda berbicara dan cara Anda menghadapi konflik di sekitar anak. Bila Anda berperilaku agresif di depan anak, kemungkinan anak akan meniru Anda. Sebaiknya tunjukkan perilaku yang positif.

5. Dukung perilaku baik.

Dukungan positif bisa lebih kuat dari disiplin negatif. Ketahui momen ketika anak berperilaku baik, dan saat ia mengatasi situasi dengan cara yang positif, lalu berikan pujian.

Mengatasi Perilaku Agresif, dimulai dari Rumah

Ketika mencari pengaruh pada perilaku anak, pertama lihat apa yang terjadi di rumah. Anak yang terbiasa dengan teriakan atau kemarahan fisik dari saudara kandung atau orang tua akan bertindak serupa.

Wajar bila anak berkelahi dengan kakak atau adiknya di rumah. Anda perlu turun tangan bila ada kekerasan fisik.

Pastikan bicara pada anak tentang apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan. Namun jangan lupa perhatikan perilaku Anda sendiri.

Awasi cara Anda bicara dan bertindak terhadap anak anda.

Bila Anda tidak suka dengan perilaku anak, tekankan kalau Anda ingin si kecil mengubahnya.

Bila keluarga mengalami kondisi yang menimbulkan stres yang Anda rasa jadi penyebab perilaku anak, cari bantuan konselor, pemuka agama, terapis, dan dokter.

Untuk membantu anak berhenti mem-bully, bicaralah pada guru atau kepala sekolah yang bisa mengidentifikasi situasi yang memicu bullying dan memberi bantuan. Dokter juga bisa membantu.

Bila anak punya riwayat masalah dalam mengontrol marah, coba konsultasikan ke terapis atau orang yang ahli dalam kesehatan perilaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*